Dari Bisnis Wedding Decoration, Nefianto Terlepas Dari Kemiskinan

By: | Tags: , | Comments: 0 | Januari 28th, 2015

Perjalanan hidup manusia ibarat sebuah lukisan yang digariskan oleh Tuhan. Inilah filosofi yang diyakini Nefianto Setiono untuk menggambarkan hidupnya menjadi salah satu desainer wedding decoration yang diperhitungkan di Indonesia.

Nefi, panggilan akrabnya, tak pernah menyangka akan menjadi pengusaha sekaligus desainer dekorasi terkemuka. Dia mengaku hanya mengikuti garis nasibnya seperti air mengalir. Hanya, satu hal yang terus menyulut semangatnya dalam berusaha: “Saya takut kemiskinan,” ucap pria 51 tahun ini, dikutip dari kontan.co.id.

Lulus sebagai insinyur elektro sekaligus manajemen bisnis dari Institute of Technology Toronto, Kanada, Nefi harus berhadapan dengan gaji mungil standar fresh graduate di Indonesia. Lantas, dia memutuskan bergabung dengan kakak iparnya yang memiliki usaha di bidang komputer. “Saya mengurus instalasi atau pemasangan komputer,” kenang Nefi.

Namun, pekerjaan ini tidak lama ia jalani. Tren bisnis butik menggugah dia untuk terjun dalam bisnis kreatif ini. Maklum, meski memilih bidang teknik pada pendidikan tingkat atasnya, jiwa seni cukup kental tertanam padanya. Saat SMA, misalnya, Nefi sengaja memilih jurusan sastra. Maka, ia mendirikan butik.

Meski terlihat besar dan kuat, jari-jari tangan Nefi lincah dan gemulai merangkai aksesori atau bunga pada barang. Naluri seni dan keindahan melekat kuat pada dirinya dan mudah keluar menjadi ide kreatif, saat dia mencoba menghias ulang sebuah bantal. “Talenta ini seperti gift bagi saya,” ujarnya.

Tak heran, butiknya menjadi langganan para istri duta besar dan pejabat. Nefi bilang, meski memasok produk jadi dalam butiknya, dia selalu mengolah ulang setiap barang yang dipajang. Ambil contoh, dari sebuah tas bermodel simpel, Nefi akan menambahkan beberapa aksesori, hingga berubah menjadi tas pesta nan elegan.

Perkenalan Nefi dengan dunia dekorasi pernikahan boleh dibilang tak sengaja. Sekitar tahun 1994, seorang tetangga Nefi yang punya usaha florist bangkrut. Ia lantas menitipkan karyawannya ke Nefi. “Karena saya tidak punya lowongan pekerjaan, orang itu saya jadikan sopir,” tutur dia.

Ternyata, orang tadi tak cukup berpengalaman menjadi sopir. Nefi pun meminta dia untuk kembali merangkai bunga. “Tapi, saya tetap turun tangan, karena hasilnya tak sesuai dengan selera saya,” ujar Nefi. Rangkaian bunga itu turut dijual di butiknya.

Nefi ingat betul, saat itu sulit sekali menjual bunga, lebih lagi jika dibanderol dengan mahal.  “Dulu, kreasi bunga untuk hiasan hanya dihargai Rp 3.500 per parsel,” kenang dia.

Nefi harus memutar otak, untuk mengangkat penjualan bunganya. Dari vas yang dipajang di etalase pusat perbelanjaan, Nefi mendapat ide untuk mengolah vas terlebih dahulu, sebelum memasukkan rangkaian bunga. Dari situ, bisnis florist  mulai berjalan. “Saya tak suka menyerah. Jadi, saya harus coba dulu dengan sungguh-sungguh, saya jalani, baru saya tahu hasilnya. Itu namanya proses belajar,” terang Nefi.

Meski mengikuti arah air mengalir yang membawa nasibnya, bukan berarti Nefi tak peka dengan perubahan. Ketika orang banyak berminat pada bisnis butik dan muncul pesaing, Nefi mulai berpikir untuk beralih ke bisnis dekorasi. “Dalam bisnis itu, kita juga harus lihat akan ke arah mana kita bertindak, tak boleh diam dan terima nasib,” tutur suami dari Ery Natali Touwani ini.

Seiring dengan perkembangan bisnis florist, konsumen butik mulai mengundang Nefi untuk mendandani rumah mereka, ketika menghelat acara, entah dinner, ulang tahun, atau pernikahan.  “Saya bikinkan apa pun, karena ini bisnis jasa. Mau bikin satu atau 10 rangkaian, itu semua bergantung pada permintaan klien. Jadi, kami hanya disuruh-suruh klien,” jelas Nefi merendah.

Nefi mengaku konservatif dalam menjalankan bisnis. Maksud Nefi, ia selalu memulai usahanya dari skala kecil. “Saya tahu diri, saya bukan tipe orang yang nekat, semua saya lihat dari kesanggupan dan waktu yang saya punya,” kata Nefi.

Bertolak dari sinilah, Nefi fokus ke bisnis dekorasi dengan mendirikan Nefi Decor pada 2001, dan meninggalkan bisnis butiknya.

Nama Nefi kian dikenal dari promosi mulut ke mulut, sebagai dekorator pernikahan. Menurut Nefi, salah satu penyebab dirinya sukses adalah karena selalu berusaha jujur. Baginya, pantang untuk meniru hasil karya orang lain. “Karya yang orisinil itu menjadi kekuatan desain saya,” tegas Nefi.

Dari para klien, Nefi mengetahui, hasil desainnya disukai lantaran bisa mendatangkan kesan elegan, mewah, dan rapi. Biarpun interior ruangan sudah cantik, sentuhan rangkaian bunga dan aksesori lain hasil desain Nefi dianggap bisa membuat ruangan itu benar-benar tampil beda, utamanya anggun, mewah, dan hidup.

Belakangan, permintaan datang tidak hanya dari para pengantin yang berasal dari Indonesia. Nefi juga mendapat kepercayaan dari pasangan dari luar negeri, seperti Singapura, China, Hong Kong, hingga India. Nefi juga pernah menjadi wakil dari Indonesia dalam Wedding Planner Conference di Yunani.

Kini, dalam setahun, Nefi yang mempekerjakan sekitar 40 orang ini bisa menggarap 50–100 dekorasi. Bukan hanya event besar seperti pernikahan, Nefi Decor juga mengerjakan company event.

Demi memuaskan klien dan hasil desain yang sempurna, sampai sekarang Nefi masih ikut serta dalam setiap proyek dekorasi. Dia terlibat mulai dari awal penyusunan konsep hingga tahap konstruksi di gedung.

Bahkan, Nefi masih setia memberi sentuhan akhir pada setiap rangkaian bunga. “Soalnya, saya memang sangat mengutamakan detail,” kata Nefi seraya menunjukkan hasil-hasil rangkaian bunganya.

Rela eliminasi masalah pribadi

Pernikahan adalah momen istimewa. Kebanyakan orang menginginkan pernikahannya awet seumur hidup. Mengingat makna pernikahan semacam itu, Nefianto Setiono, pemilik Nefi Decor, tak mau main-main dalam mendekorasi pesta pernikahan.

Nefi sangat menyadari, karena pernikahan punya arti yang istimewa bagi kliennya, maka ia harus menjaga baik-baik kepercayaan si klien. Nefi selalu berusaha menyajikan detail dekorasi, supaya pengantin benar-benar mendapat kesan baik pada hari pernikahan.

Hingga saat ini, Nefi juga terus belajar untuk memberikan hasil maksimal. Maklum, tak ada kesempatan kedua untuk sebuah pesta pernikahan. “Jadi tak bisa diulang kalau ada kesalahan,” tegas dia.

Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, butuh komitmen yang tinggi. Dia juga harus rela mengorbankan peristiwa penting dalam keluarganya, jika bertepatan dengan perhelatan klien. Misalnya, ada anggota keluarganya yang meninggal. Dia terpaksa mengeliminasi masalah pribadi.

Pria kelahiran Jakarta, 18 September 1963, ini selalu berhasil menjaga komitmennya. Ketika kerusuhan Mei 1998, Nefi tetap mendekor, walau harus berhadapan dengan kobaran api di sepanjang jalan antara Bekasi dan Jakarta. “Walau rusuh, klien tetap melanjutkan rencana menikah di Hotel Shangri-la,” ucap dia.

Padahal, ibunya sempat mengingatkan, usahanya tak sebanding dengan nilai materi yang ia dapat. “Saya juga harus bertaruh nyawa dengan istri saya kala itu,” kenang Nefi.

Namun, itulah Nefi yang ingin memuaskan para kliennya. Dia pun mengibaratkan dekorator pernikahan sebagai tentara yang harus terus maju demi melayani hari bahagia dua sejoli. “Maka usaha ini tidak bisa disepelekan karena tidak mudah untuk dijalani,” tandas dia.

Leave a Reply

fifteen − seven =