Kisah Denny Putra Husodo Besarkan Bisnis Keluarga

By: | Tags: | Comments: 0 | Agustus 18th, 2014

dennyputra

Kata orang bijak, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah Denny Putra Husodo, komisaris PT Puri Wahid Pratama (PWP). Dia memilih menggeluti bisnis properti, dunia yang digeluti sang ayah, Sugiharto, sejak 26 tahun lalu. PT PWP adalah pengembang properti yang berbasis di Salatiga, Jawa Tengah. Perusahaan telah menggarap beberapa proyek residensial dan hotel di kota-kota wilayah Jawa Tengah. Salah satu proyeknya adalah Hotel Grand Wahid, Salatiga.

Saat ini, perusahaan melakukan ekspansi keluar Jawa Tengah dengan membangun superblok Cibinong City Centre seluas 22 hektare di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain akan dibangun proyek residensial, di atas lahan tersebut akan dibangun mal dan hotel.

Bagi Denny, property bukan dunia baru. Sejak kecil, dia sudah mengenal apa itu desain, konstruksi, dan rancangan arsitektur. Itu karena secara berkala sang ayah mengajaknya kelokasi proyek. “Secara tidak sadar, ada yang masuk dalam hati dan pikiran saya. Akhirnya, saya mengikuti jejak ayah,” ujarnya seperti dilansir Investor Daily.

Guna menguatkan ketertarikannya kedunia properti, Denny pun mendalami ilmu arsitektur. Pada 2005, dia meninggalkan kota kelahirannya, Salatiga, lalu terbang ke Melbourne, Australia. Di kota tersebut, dia belajar arsitektur di University of Melbourne.

Berbekal ilmu yang didapat dari bangku kuliah serta niat kuat membesarkan bisnis orang tua, Denny terjun kedunia properti. ”Di properti, saya bisa mengekspresikan sentuhan seni, khususnya desain bangunan yang saya pelajari, “katanya.

Persoalannya, kepada pengembang mana dia harus abdikan ilmunya? Pilihan ternyata jatuh ke PT PWP, perusahaan yang dirintis sang ayah. “Saya meyakinkan orang tua melalui hasil kerja. Saya berniat membesarkan bisnis keluarga. Saya yakinkan orang tua bahwa saya serius,” tegas Denny.

Dia berharap, sayap bisnis PT PWP semakin berkembang sejak kehadirannya. “Saya sampaikan kepada ayah bahwa saya memiliki niat keras untuk memajukan bisnis keluarga,” ujarnya.

Bergabung ke PT PWP memudahkan langkah Denny terjun kebisnis properti.“Ini kan sudah ada, tinggal meneruskan. Lebih mudah meneruskan yang sudah ada, daripada memulai yang baru,” kata Denny.

Di tempat kerja, Denny mengaku tidak memosisikan diri sebagai anak pemilik perusahaan. Semua pihak berusaha menempatkan diri sesuai system dan mekanisme yang berlaku. Jika ada masalah, dia mengembalikan ke standard operating procedure (SOP) yang ada. Apalagi di tempat kerja, Denny banyak berhubungan dengan orang-orang yang usianya di atasnya.

Dia melakukan langkah-langkah yang tepat dan diperlukan guna menyelesaikan masalah yang ada.Tindakan tersebut harus dialakukan. Dengan begitu, tim di tempat kerja yang dia pimpin tidak menilainya sebagai anak bos yang hanya pandai memerintah dan mencari kesalahan.

“Orang-orang akan melihat bahwa saya tidak diam saja. Saya bukan hanya duduk dan asal perintah. Saya juga tidak ingin mengungkit-ungkit kesalahan,” katanya.

Di sisi lain, setiap memberikan instruksi, Denny juga kerap membuka ruang diskusi jika ada yang mempertanyakan instruksi tersebut. Dia bersedia mengikuti masukan lain jika dinilai lebih baik dari instruksinya.

Di tempat kerja, Denny juga mengutamakan sikap peduli. Setengah hari, dia di bekerja kantor dan setengah hari di lokasi proyek. Selama di proyek itulah, diaterapkan sikap peduli. Tak hanya menyangkut urusan besar, sikap itu juga dialakukan untuk urusan kecil.

“Misalnya, saya melihat ada 10 sak semen yang tidak terpakai. Saya harus peduli dan memikirkan cara bagaimana semen itu terpakai. Masalah kecil jika tidak dipedulikan akan menjadi besar,” paparnya.

Lalu, pernahkah Denny lari ke ayahnya  jika menghadapi persoalan serius? Dia tak membantah. “Pasti,”  tegasnya. Denny tidak berani mengambil keputusan tanpa masukan ayah anda jika menghadapi masalah yang berhubungan dengan investasi besar.

Mengapa? Karena sang ayah lebih berpengalaman dan matang dalam mengelola investasi besar. Di proyek superblok Cibinong City Centre, misalnya, Denny setiap dua atau tiga minggu selalu berkonsultasi dengan sang ayah. Itu wajar dilakukan karena nilai investasi proyek tersebut lebih dari Rp 500 miliar.

Sebagai professional muda, Denny memiliki sudut pandang sendiri mengenai sukses. Baginya, sukses adalah tercapainya sebuah target.Target jangka pendek yang ingin Denny raih adalah menyelesaikan proyek Cibinong City Mal (CCM). Sedangkan target jangka panjang, dia ingin membesarkan nama perusahaan sang ayah. Bukan hanya di Indonesia, dia berobsesi membawa perusahaan sang ayah ekspansi sampai kemancanegara.

Penyuka buku-buku misteri ini juga meyakini konsep keseimbangan. Dengan usia mudanya, Denny telah belajar menyeimbangkan antara kesuksesan bisnis, keluarga, dan pribadi. Sukses dalam bisnis, seperti disinggung sebelumnya, dia ingin membesarkan nama perusahaan sang ayah.

Di sisi lain, dia ingin terus hidup bersama sang istri sampai tua sebagai tanda sukses dalam kehidupan berkeluarga. “Untuk sukses pribadi, saya ingin meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang, apa pun itu,” imbuhnya.

Bisnis, keluarga, dan pencapaian pribadi, menurut Denny, memang seharusnya berjalan seimbang. Ketiganya harus seiring. “Percuma kalau salah satu tinggi, sementara yang  lain tidak,” katanya. (as/img:istimewa)

Ciputra entrepreneurship.com

 

Leave a Reply

6 − three =