Lim Hariyanto Wijaya: Dari Toko Kelontong ke Dinasti Kelapa Sawit

By: | Tags: | Comments: 0 | Agustus 28th, 2014

Inilah Kisah Luar Biasa Seorang Pebisnis Toko Kelontong yang Berhasil Membangun Dinasti Kelapa Sawit.

Indonesia dan Malaysia adalah produsen terbesar minyak mentah kelapa sawit (CPO). Kita dan Malaysia menyumbang setidaknya 85 persen pasokan dunia. Salah satu perusahaan yang menyumbang besarnya angka produksi CPO di Indonesia barangkali adalah Bumitama Agri, perusahaan milik Lim Hariyanto Wijaya Sarwono. Namun siapa sangka kalau perusahaan ini dulunya berawal dari sebuah toko kelontong?

Lim Tju King, ayah Lim Hariyanto Wijaya, adalah seorang imigran dari Fujian, China. Beliau merantau ke Samarinda ketika terjadi krisis di negara asalnya. Bukan berarti beliau hidup enak di Samarinda. Beliau memulai dari nol. Beliau mengawali karirnya dengan kerja serabutan, dari mulai jadi kuli hingga berdagang. Upah kerja yang tak tentu itu kemudian ditabung. Begitu cukup, beliau kemudian mendirikan toko kelontong pada tahun 1915. Barangkali, beliau tak akan pernah menyangka kalau toko kelontong inilah yang seabad kemudian mengawali berdirinya sebuah dinasti kelapa sawit yang mampu melambungkan nama anaknya ke jajaran orang terkaya Indonesia.

Memang, sepeninggal sang ayah, Lim Hariyanto Wijaya melebarkan sayap bisnisnya. Ia membangun  Harita Group. Bisnis ini terjun ke berbagai industri yang berkaitan dengan sumber daya alam. Mulai dari perdagangan kayu log, manufaktur kayu lapis, hingga pertambangan batu bara, emas, dan nikel. Kemudian barulah pada tahun 1996, Harita Grup mengakusisi lahan seluas 17.500 hektar di Kalimantan Tengah. Inilah awal berdirinya Bumitama Agri. Meski mereka berjalan lambat di awal, namun sejak 2002, mereka mengalami akselerasi hingga puncaknya, pada Maret 2012, Bumitama sudah memiliki 118.00 hektar perkebunan kelapa sawit siap tanam yang terbentang di Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Rata-rata pertumbuhan produksi setiap tahun adalah 24,6 persen. Dan dari segi keuntungan, rata-rata pertumbuhannya sebesar 67 persen.

Maka, tidak heran jika kemudian pada tahun 2012, induk bisnis sawit itu sukses melantai di bursa saham Singapura. Kantor berita Reuters melaporkan bahwa saat listing di Singapura, perusahaan itu mengeruk  $175,8 juta. Lim Gunawan Hariyanto, Anak kandung Lim Hariyanto Wijaya, sekaligus CEO Bumitama Agri, dengan penuh haru mengatakan, “Ini adalah hari bersejarah bagi Bumitama.”

Berkat kesuksesan penjualan saham ini, Bloomberg Billionaires Index memperkirakan kekayaan konglomerat yang  berbasis di Jakarta ini setidaknya bernilai $1,8 miliar. Selain saham, Bloomberg mengabarkan bahwa lonjakan asetnya juga terjadi berkat kepemilikannya di sejumlah pertambangan. Harita Group dikabarkan akan melego pertambangan nikel miliknya di bursa saham Singapura. Meskipun sementara harus tertunda dulu menyusul kebijakan Pemerintah RI yang mengharuskan perusahaan pertambangan membangun smelter mulai 2014.

Memang, Lim Hariyanto Wijaya kini sudah senja, sudah 85 tahun. Namun, usaha yang ditekuninya selama berpuluh-puluh tahun itu nyatanya membuahkan hasil berupa kekayaan untuk diwariskan. Saat ini, kemudi perusahaan sudah berpindah ke anak-anaknya, sebagaimana kakek mereka memulainya dari sebuah toko kelontong.

Nah Sobat Studentpreneur, moral of the story: untuk membangun sebuah bisnis yang besar, Anda perlu memulainya dari aktivitas kecil. Kadang, sampai butuh waktu seabad hingga Anda tahu hasilnya. Seperti itulah luar biasanya sebuah bisnis. Jadi, bagaimana menurut Anda? Mari berdiskusi di kolom komentar! Anda juga bisa mendapatkan informasi bisnis anak muda kreatif melalui Facebook atau Twitter Studentpreneur. [Photo Credit: Jeff]

– See more at: http://studentpreneur.co/lim-hariyanto-wijaya-dari-toko-kelontong-ke-dinasti-kelapa-sawit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lim-hariyanto-wijaya-dari-toko-kelontong-ke-dinasti-kelapa-sawit#sthash.kVv2X308.dpuf

Leave a Reply

6 + 19 =