MARI BETERNAK CACING TANAH

By: | Tags: | Comments: 0 | January 6th, 2016

A.    Cara memilih bibit cacing

Dalam memilih bibit yang akan ditanam, kita harus benar-benar diperhitungkan selain yang baik dan sehat, bibit yang akan kita tanam itu bibit remaja atau dewasa, karena hal ini akan mempengaruhi waktu panen. Kalau kita menanam bibit remaja berarti waktu panen surut 2-3 minggu, karena cacing remaja ke dewasa jenjang waktunya 2-3 minggu. Dewasa ke bertelur 2-3 minggu. Kalau kita menanam cacing dewasa langsung waktu panen surut 2-3 minggu.

B.    Cara menanam bibit cacing

  1. Kotak-kotak yang sudah di isi dengan media, masukan pakan di tengah-tengah media.
  2. Setelah itu siram dengan air sampai basah.
  3. Biarkan + 15 menit agar airnya turun.
  4. Setelah itu, simpan bibitnya di atas media dan simpan peti di tempat yang sudah disiapkan.
  5. Sebaiknya kotak-kotak ditutup dengan plastik atau kotak-kotak tersebut simpan ditempat yang terlindungi dari sinar matahari

media cacing

C.     Media

Penyiapan Sarana dan Peralatan Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bamboo, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat, pupuk kandang atau kotoran sapi-kambing dan kelinci, daun kering yang sudah dirubah menjadi kompos pastikan selalu basah.

Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran ( 1,5 x
18 m dengan tinggi 0,45m ) Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan
terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau-pancing-berjajar.

Perbandingan bibit dalam kotak

Untuk kotak ukuran 40 cm x 50 cm paling banyak ditebar 0,5Kg, karena akan memudahkan penghitungan perkembangan cacing selanjutnya. Dalam waktu 2-3 minggu akan menghasilkan banyak telur (cocon) Setelah itu pisahkan cacing dengan telurnya. Bibit cacing yang telah kita pisahkan, pindahkan ke kotak dan media yang baru. Adapun telur cacing yang ada dalam kotak lama, dalam waktu 2-3 minggu akan menetas dan akan terlihat anak-anak cacing kecil sebesar rambut.

Cacing remaja dipindah ke kotak dan media baru, dalam waktu 2-3 minggu cacing remaja ini akan menjadi cacing dewasa dan siap memproduksi telur. Begitu seterusnya. Tanda-tAnda cacing sudah dewasa dapat dilihat pada lehernya. Apabila di lehernya terdapat garisan putih seperti kalung, maka cacing tersebut sudah benar-benar dewasa. Dari telur yang menetas dengan bibit awal 0,5Kg/peti akan menghasilkan 5 Kg cacing dewasa.

D.    Jenis   Cacing

Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari :

  1. Family-Megascolicidae
  2. Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi
  3. Lidrillus.

Yang kini banyak diternakan antara lain:

  1. Pheretima,
  2. Periony
  3. Lumbricus.

Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pada segmen 13 dan 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yang lebih serius. Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi
telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak

cacing

E.     Sistem budidaya cacing

Setelah persiapan diatas selesai, kita tentukan cara menyimpan peti. Sistem berbanjar atau cara susun ataupun juga sistem rak. Karena masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya.

  1. Sistem berbanjar Dengan sistem berbanjar, kita akan mudah dalam pemberian pakan dan pengontrolan perkembangan cacing. Juga mudah mengontrol dari gangguan hama. Kelemahannya memakan tempat yang banyak.
  2. Sistem susun Dengan sistem susun, kelebihannya sedikit memakan tempat tapi akan mendapat kesulitan dikala kita member pakan, kita harus mengangkat peti satu persatu dan menyusunnya kembali. Ini akan memakan waktu dan menguras tenaga.
  3. Sistem rak Dengan sistem ini kita akan mendapat beberapa keuntungan tidak memakan tempat, mudah dikala member pakan dan mengontrol perkembangan dan mengontrol dari gangguan hama, hanya kita dituntut untuk mengeluarkan biaya tmabahan dalam pembuatan rak.

F.     Media

Memang sebaiknya terbuat dari kotoran hewan yang dicampur tanah/serbuk gergaji yang sudah lapuk,Daun daun yang sudah menjadi kompos dll.

G.     Penggantian-Media

Media yang sudah menjadi tanah atau yang telah banyak telur
(kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak
dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata
penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.

cacingg

Cara pemberian pakan

Cara pemberian pakan yang baik, kita harus melihatnya dahulu apakah pakan yang kita berikan sebelumnya sudah habis atau belum. Biasanya apabila ukuran peti 40 cm x 50 cm dengan bibit 0,5 Kg, maka pakan yang kita berikan 2 Kg dan dalam waktu 2 hari akan habis. Untuk menghemat, usahakan pemberian pakan jangan berlebihan dan pakan disimpan di tengah-tengah media.

Pakan Cacing

Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecualikotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :

  1. Diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
  2. Bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan
  3. Pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
  4. Pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
  5. Bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.

Cacing sangat menyukai pakan yang lembek seperti :

  1. Sayuran dan daun hijau hijauan.
  2. Buah-buahan yang agak busuk.
  3. Hindari buah-buahan yang mempunyai rasa yang asam.
  4. Untuk kotoran ternak, kotoran sapi yang paling dominan.
  5. Kotoran kambing – Ayam dan kelinci kita harus terlebih dahulu merendamnya + 2-3 hari, aduk-aduk sampai lembut baru diberikan.
  6. Ampas Sagu- Ampas Kelapa – Ampas Tahu – Sisa Nasi –

I.       Estimasi pertumbuhan Cacing

Usia Cacing/Bibit Butuh Waktu Catatan :Untuk menghitung hasil ternak, kita bisa melihatnya dari penanaman bibit. Dengan menanam bibit 0,5 Kg, maka telur-telur yang ada dalam waktu 6-9 minggu akan menghasilkan + 5Kg cacing dewasa (10 kali lipat).
Bibit cacing Remaja s/d panen 6 minggu
Remaja s/d Dewasa 2 -3 minggu
Dewasa s/d Bertelur 2-3 minggu

Persyaratan Lokasi

  • Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah
    yang besar.Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran
    ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan
    yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
  • Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam
    sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing
    tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
  • Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah
    adalah antara 15-30 %.
  • Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah
    sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat
    C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
  • Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan
    pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di
    bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang
    atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan
    panas.

Hama Penyakit

Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan
musuh cacing . Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: Semut, Kumbang,
Burung, Kelabang, Lipan, Lalat, Tikus, Katak, Tupai, Ayam, Itik, Ular, Angsa, Lintah, Kutu dan
lain-lain. Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang memakan pakan cacing tanah
yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk
penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara
disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.

MANFAAT

Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi
dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman
menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang
menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:

  1. Bahan-Pakan-Ternak
    Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagaipakan ternak seperti Bebek – Ayam, Berbagai jenis ikan piaraan atau ikan hias, udang pakan kodok.
  2. Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit, yang diolah secara modern.
    Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan
    tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
  3. Bahan-Baku-Kosmetik
    Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku
    pembuatan-lipstik.
  4. Makanan-Manusia
    Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan
    makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
  1. Analisa Budidaya Cacing Tanah

Perkiraan analisis Budidaya Cacing Tanah di Malang ( jawa Timur tahun 2015)

Modal Tetap.

1. Sewa tanah seluas 200m2/tahun Rp. 150.000
2. Buta kandang pelindung : bahan bamboo & atap asbes Rp. 300.000
3. Kandang ternak uk. 1.5 m x 18 m2 x tinggi 50 cm ( 11 buah ) Rp. 650.000
4. Media
Bahan ( tanah-Kompos dll ) sebanyak 6 ton @. 125.000 Rp. 750.000
Plastik 200 m @. 1800/m Rp. 360.000
Pelepah pisang Rp.   30.000
Total …………………………………………………………………………………………….. Rp. 2.240.000

Biaya Penyusutan.

1. Tanah Rp. 75.000
2. Kandang pelindung Rp. 150.000
3. Kandang ternak Rp. 325.000
4. Media
Bahan media Rp. 375.000
Plastik Rp. 130.000
Pelepah pisang Rp.   15.00
Total Penyusutan …………………………………………………………………………. Rp. 1.070.000

Modal Kerja

1. Bibit sebanyak 40 kg @.60.000/kg Rp. 2.400.000
2. Pakan dalam bentuk limbah sayut 5 ton @. 500.000 Rp. 2.500.000
3. Tenaga kerja 1 orang @. 750.000 x 4 bulan Rp. 3.000.000
Jumlah Total   ………………………………………………………………………………………….. Rp. 7.900.000

Jumlah Modal yang di butuhkan

Modal Tetap Rp. 2.240.000
Modal Kerja Rp. 7.900.000
Jumlah                                                                                   Rp. 10.140.000

Produksi/4 bulan

1. Selama 4 bulan menghasilkan 1600kg @.Rp 250.000 Rp. 400.000.000

 

1. Penyusutan Rp.     1.070.000
2. Modal kerja + Modal Tetap Rp.   10.140.000
Rp. 11.210.000

Penghasilan/4 bulan

1. Penghasilan selama 4 bulan Rp.     400.000.000
2. Total yang dikeluarka (Modal kerja + Modal Tetap ) Rp.       11.210.000
Total penghasilan selama 4 bulan Rp. 388.790.000

 

Leave a Reply

19 − seventeen =