Penelitian tentang bahaya Obesitas

By: | Tags: | Comments: 0 | Maret 19th, 2015

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Lancet Diabetes & Endocrinology menghitung risiko kematian akibat kondisi seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, yang berhubungan dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Hasilnya, mengejutkan. Mereka yang mengabaikan bahaya diabetes bisa memotong usianya hingga 8 tahun.

Diberitakan Telegraph, Jumat (5/12/2014), peneliti menemukan bahwa obesitas memotong potensi untuk menjalani delapan tahun hidup normal. Peneliti menyontohkan, orang yang sangat gemuk di usia 20-an, bisa memiliki kesehatan yang buruk di awal usia 50-an dan meninggal di usia 71 tahun dimana orang sehat rata-rata meninggal pada usia 79 tahun. “Pola ini jelas. Semakin muda seseorang obesitas, maka semakin besar dampak buruk yang bisa mereka alami. Perhitungan ini harusnya bisa mengubah pola makan yang lebih sehat dan aktivitas fisik secara teratur,” ujar Profesor Kedokteran di McGill, Paul Grover. Di sisi lain, BBC melaporkan, Jurnal medis Lancet merilis daftar negara-negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia dan Indonesia ternyata berada di peringkat 10.

Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok :

  • Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
  • Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
  • Obesitas berat    : kelebihan berat badan >100%.

Obesitas berat ditemukan sebanyak 5 % diantara orang-orang yang gemuk. Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut, lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Mereka memiliki resiko yang lebih tinggi. Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak daripada yang diperlukan oleh tubuh. Apa penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas. Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor

  1. Faktor genetik ; obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33 % terhadap berat badan seseorang.
  2. Faktor lingkungan; gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat merubah pola genetiknya, tetapi dia dapat merubah pola makan dan aktivitasnya.
  3. Faktor psikis ; apa yang ada di dalam fikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.
  4. Faktor kesehatan ; beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya ; hipotiroidisme, sindroma cushing, sindroma prader-willi, beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan. Dan obat-obatan ; obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.
  5. Faktor perkembangan ; penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampak 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.
  6. Aktivitas fisik ; kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.
    Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan yang mengerikan. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang.

Obesitas juga meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti :

  1. Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa)
  2. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  3. Stroke
  4. Serangan jantung (infark miokardium
  5. Gagal jantung
  6. Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar)
  7. Batu kandung empedu dan batu kandung kemih
  8. Gout dan artritis gout
  9. Osteoartritis
  10. Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah)
  11. Sindroma pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan ngantuk).

Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan resiko kesehatannya dengan cara menghitung bmi. Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka bmi :

  • Resiko rendah : bmi < 27
  • Resiko menengah : bmi 27-30
  • Resiko tinggi : bmi 30-35
  • Resiko sangat tinggi : bmi 35-40
  • Resiko sangat sangat tinggi : bmi 40 atau lebih.

Sementara itu untuk obat-obatan, ada 2 jenis utama obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi obesitas:

  1. Obat yang mengurangi nafsu makan, contohnya fenfluramin, deksfenfluramin, fentermin.
  2. Obat yang menghalangi penyerapan zat gizi dari usus, contohnya orlistat (menghalangi penyerapan lemak di usus).

Kesadaran akan bahaya obesitas masih rendah. Sebagian orang bahkan tidak menyadari mereka menderita obesitas dan berpikir berat badannya normal. Hal ini tentu tak boleh diabaikan karena obesitas merupakan sumber berbagai penyakit seperti stroke, diabetes, jantung, dan gangguan pernapasan.

Diasuh Oleh : Dr. Indah 081216137614

Alih Bahasa       : Sapodo Bertoes

Diupload Oleh : Udin

Sumber              : http://ayokesehatan.blogspot.com/2014/03/manfaat-air-putih.html

Leave a Reply

5 × 1 =