Sukses setelah memakai nama merek dari Barat (2)

By: | Tags: , , , , | Comments: 0 | November 24th, 2014

 PROFIL TAUFIK RAHMAN (2)

Oleh Tri Sulistiowati

parker [dropcap]B[/dropcap]erhasil menembus pasar lokal dan internasional rupanya butuh usaha keras dan kegigihan dari Taufik Rahman. Asal tahu saja, laki-laki lulusan Universitas Negeri Jember ini harus jatuh bangun untuk dapat memasarkan produk kaus kaki dan sepatunya.

Laki-laki yang lebih akrab disapa Taufik ini memulai usahanya pada tahun 2002 di Bandung, Jawa Barat. Saat itu, dia memulai usaha kaus kaki dengan modal awal Rp 5 juta yang berasal dari tabungannya.

Lantaran tidak memiliki keterampilan membuat kaus kaki, bapak tiga anak ini menemui temannya yang mempunyai pabrik kaos kaki. Karena kedekatannya, dia lalu meminta temannya untuk membuatkan kaus kaki. Dengan modal Rp 5 juta dia mendapatkan sekitar 300 lusin kaus kaki dengan harga Rp 30.000 per lusin. “Kurangnya saya ngutang dulu,” katanya sambil tertawa.

Sembari menunggu kaus kaki pesanannya jadi, laki-laki berkulit gelap ini mulai memikirkan merek dan packing produknya. Merek pertama yang dia pakai adalah Stairway. Nama itu diambil dari salah satu judul lagu sebuah band yang lagi ngetop di mancanegara.

Setelah kaus kaki pesanannya jadi, Taufik lalu membungkus seluruh produknya dengan dibantu oleh sang pembantu. Untuk memasarkannya, laki-laki berbadan tambun ini mencoba menawarkannya di banyak toko busana dan sepatu di area Bandung. “Saya mengedarkan keliling dari toko ke toko,” katanya.

Tidak jarang, Taufik ditolak oleh pemilik toko saat menawarkan produknya. Padahal saat itu dia menghargai kaus kakinya sekitar Rp 5.000 per pasang. Di awal tahun pembukaan usahanya , Taufik hanya bisa memasarkan sekitar 500 pasang kaus kaki.

Dua tahun menjual kaus kaki, penjualannya  tidak juga mengalami kenaikan yang signifikan. Taufik lalu mencoba mencari cara untuk meningkatkan penjualannya. Saat itu, yang terlintas di kepalanya adalah mengganti merek dengan gaya kebarat-baratan yang sudah tidak asing di telinga orang Indonesia.

“Parker itu kan merek pulpen top di Amerika, coba saja saya daftarkan untuk merek kategori busana,” ceritanya. Ternyata merek Parker diterima dan Taufik mendapatkan sertifikatnya. Pada tahun 2004, dia resmi menggunakan merek Parker untuk produk kaus kakinya.

Gayung bersambut, produknya diserbu konsumen. Penjualannya meningkat sekitar tiga kali lipat meski harga jualnya dinaikkan hingga Rp 30.000 per pasang. Saat ini, Taufik dapat memproduksi kaus kaki sebanyak 2,5 juta pasang dalam setahun. Untuk memproduksi  kaus kaki sebanyak itu, ia mempekerjakan 200 karyawan. (Awe/Havid Vebri )

(Bersambung)

diambil dari www.kontan.co.id

Leave a Reply

7 − 1 =